Subscribe Us

 

Istinja’ yang Benar Menurut Islam: Panduan Lengkap Bersuci dari Hadas


ABU AULIA, Jakarta - Islam adalah agama yang menempatkan kebersihan dan kesucian sebagai bagian dari iman. 
Tidak hanya dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam hal-hal sehari-hari, termasuk saat buang hajat. 
Dalam syariat Islam, bersuci setelah buang air kecil maupun besar disebut dengan istinja’ (ٱلِاسْتِنْجَاء)
Praktik ini bukan sekadar urusan fisik, melainkan bagian dari kesempurnaan iman seorang Muslim.

Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ 
Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Hadis-hadis Nabi Muhammad SAW pun menjelaskan tata cara istinja’ secara rinci, sebagai bentuk kasih sayang beliau terhadap umatnya agar terjaga dari najis dan penyakit.


Apa Itu Istinja’? 

Menurut kitab al-Fiqh al-Manhaji, istinja’ adalah menghilangkan najis atau meringankannya dari tempat keluarnya air seni atau kotoran. Kata “istinja" berasal dari akar kata an-najaa’ (ٱلنَّجَاء) yang berarti bersih atau selamat dari penyakit.

Dengan kata lain, orang yang beristinja’ bukan sekadar membersihkan tubuh, tetapi juga sedang menjaga kesehatan dan meraih keberkahan dengan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.


Cara Bersuci dalam Istinja’ 

Syariat Islam memberikan dua pilihan utama dalam istinja’:
1. Menggunakan Batu atau Benda Padat yang Suci
    • Tujuannya adalah menghilangkan wujud najis.
    • Nabi SAW mencontohkan penggunaan tiga batu bersih untuk beristinja’.

2. Menggunakan Air yang Suci
    • Air bukan hanya menghilangkan wujud najis, tetapi juga menghapus bekasnya.
    • Para ulama menegaskan bahwa beristinja’ dengan air adalah cara yang paling utama.
Catatan penting: jika menggunakan keduanya (batu terlebih dahulu, lalu air), maka pembersihan menjadi lebih sempurna.


Adab Buang Air Menurut Islam 

Islam mengajarkan adab yang mulia bahkan dalam perkara kecil sekalipun, termasuk saat buang air. 
Berikut beberapa adab yang diajarkan Rasulullah SAW:

1. Mencari Tempat yang Tersembunyi 

Seorang Muslim tidak boleh buang air sembarangan, apalagi di tempat umum, jalanan, bawah pohon berbuah, atau lubang binatang. Islam melarang hal yang merugikan orang lain dan makhluk hidup lainnya.

2. Larangan Menghadap atau Membelakangi Kiblat 
    • Haram: jika dilakukan di tempat terbuka, baik menghadap atau membelakangi kiblat.
    • Makruh: jika dilakukan di tempat tertutup, seperti toilet khusus.
Larangan ini menandakan betapa Islam mengajarkan adab tinggi terhadap arah kiblat sebagai simbol kesucian.

3. Menggunakan Tangan Kiri untuk Bersuci 

Rasulullah SAW mencontohkan agar beristinja’ dengan tangan kiri, sementara tangan kanan digunakan untuk hal-hal yang mulia, seperti makan dan memberi salam.


Hikmah dan Manfaat Istinja’ 

Beristinja’ bukan hanya kewajiban syariat, tetapi juga memiliki manfaat besar, antara lain:
    • Menjaga kebersihan diri dari najis.
    • Menghindarkan penyakit akibat kotoran.
    • Menjaga kesempurnaan wudhu dan ibadah.
    • Membiasakan hidup bersih sesuai nilai Islam.


Istinja’ adalah bagian penting dari thaharah (bersuci) yang menjadi pondasi ibadah dalam Islam. 
Dengan melaksanakan istinja’ sesuai sunnah, seorang Muslim bukan hanya menjaga kesucian ibadahnya, tetapi juga menunjukkan cinta kepada kebersihan, sebagaimana dicintai oleh Allah SWT.


(as)
#Istinja #BersuciDalamIslam #Thaharah #FiqhKebersihan #AdabBuangAir #SunnahRasulullah #NajisDanHadas #IslamItuBersih